0

[Short Story] Story About A Healed Broken Heart.

23.30 WIB

Saya nggak menangis. Saya hanya sedang berbaring di atas kasur, menghadap langit-langit kamar. Sibuk menghitung kerlip lampu pohon natal yang dialihfungsikan menjadi lampu kamar. Pikiran saya sudah berkelana demikian jauh meninggalkan pemiliknya. Tepat di kerlipan lampu paling ujung, pikiran saya kembali dan membisikkan satu kesimpulan.

Saya nggak mau jatuh cinta lagi.

 

Beberapa jam sebelumnya

“Nggak usah nunduk begitu, Chel.”

“Gue cuma lagi motongin puding kok ini.”

“Chel.”

“Ini fla-nya biar meresap ke puding.”

“Chel.”

“Gue nggak apa-apa, Jo, Na. Serius.”

“Iya, tapi nggak usah nunduk.”

“…”

“Rachel.”

*

Hari ini saya ditemani Joanna dan Ninna. Dua orang sahabat saya sejak masih SMA. Kami bersahabat karena memiliki beberapa persamaan; mulut yang terlalu pedas, intuisi yang terlalu tajam, dan kecemasan yang seringkali terlalu berlebihan. Kami sedang pergi bertiga, seperti biasa. Kami memang sering menghabiskan waktu di kafe atau coffee shop untuk sekadar menghabiskan waktu dan mengobrolkan banyak hal. Mulai dari kehidupan hingga lingkungan kerja yang berbeda satu sama lain.

Begitu juga hari ini, hanya saja kali ini saya mendapat kejutan yang tidak menyenangkan. Di sela-sela pembicaraan kami, Joanna iseng membuka Instagram dan menemukan instastory milik Mario di sana.

“Chel, Mario bikin instastory.

“Mana? Lihat coba.”

“Susah, Chel. Sinyalnya jelek di sini.”

“Nggak apa. Gue mau lihat.”

“…”

“Jo? Mana?”

Joanna menatap Ninna yang duduk di sampingnya dan ternyata sudah ikut melihat. Mereka berdua menatap saya tanpa bicara. Saya sudah mengenal mereka terlalu lama dan hafal betul makna ekspresi itu. Ekspresi yang jelas bukan pertanda baik. Maka saya mengambil handphone di tangan Joanna dan mengerti seketika.

            Instastory itu sudah terbuka. Isinya gambar tangan Mario dengan cap bibir berwarna pink dan tangan perempuan dengan cincin berlian kecil di genggamannya. Saya ikut terdiam.

Mario bukan kekasih saya, tapi kami sudah mengetahui perasaan satu sama lain. Sebenarnya ia sudah pernah meminta saya menjadi kekasihnya, tapi saya menolak. Saya pernah berpacaran dengan orang lain sebelumnya dan berakhir diselingkuhi. Sejak saat itu saya takut jatuh cinta lagi. Saya takut kalau ternyata setelah saya jatuh hati, mereka sama brengseknya dengan mantan saya. Saya takut kalau ternyata setelah saya kepalang cinta, mereka meninggalkan saya begitu saja. Tapi bersama Mario semuanya terasa berbeda. Saya yang sudah lama takut meninggalkan zona nyaman yang diisi sendirian kini mulai berani keluar. Singkatnya, saya sudah bisa jatuh cinta lagi setelah bertahun-tahun hati saya enggan membuka pintu. Saya nggak menyangka akhirnya akan begini lagi.

*

“Chel.” Kata Ninna pelan, setelah melihat mata saya yang berkaca. “Mungkin lo harus ketemu orang yang salah dulu sebelum ketemu orang yang tepat.” Lanjutnya. Saya hanya memutar mata dan tersenyum sinis.

“Kalau semuanya harus ketemu orang yang salah dulu sebelum menemukan yang tepat, berapa kali lagi gue harus ketemu orang yang salah?”

“Ini karena waktu itu lo nolak dia jadi pacarnya bukan, sih? Jadi dia putus asa dan malah ketemu orang lain?” kali ini Joanna, si pengambil kesimpulan, yang berkata.

No. Lo kayaknya nggak banyak tahu soal gue dan Mario ya, Jo?” saya balik bertanya, yang dibalas dengan anggukan. “Gue nggak mengiyakan waktu dia nembak, tapi gue juga nggak menghindari dia. Kami tetap berhubungan kayak biasa dan gue merasa itu udah cukup.” Saya menghela napas panjang. “Well, gue nggak tahu kalau ternyata buat dia, itu nggak cukup.”

Hening. Kami semua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sayup-sayup terdengar suara lagu dari dinding-dinding kafe.

“Cukup tahu tanam dalam diri, tak usah kuganggu kamu lagi.”

*

“Mereka nggak mungkin cuma temenan karena ada cap bibir.” Saya berkata pelan, “Dan nggak mungkin cuma temen biasa karena sekarang instastory-nya udah dihapus.” Lanjut saya sambil menatap Ninna dan Joanna yang hanya bisa diam. Saya tahu, kami memikirkan hal yang sama.

“Apapun yang terjadi, kalau semua ini berlalu dan dia balik lagi, jangan ditanggapi ya, Chel. Dia nggak bener-bener sayang sama lo. Terbukti dari ini.” Kata Ninna.

“Gue takut setelah ini gue makin nggak percaya sama cinta-cintaan.” Kata saya yang sama sekali tidak menanggapi nasihat Ninna barusan.

“Semuanya cuma masalah waktu kok, Chel.” Kali ini Joanna yang berkata, berusaha menghibur tapi gagal.

Ya elah, gue udah buang-buang waktu buat percaya sama Mario. Sekarang ujungnya dia tetep pergi, kan? Apa bedanya sama yang lain? Bullshit!” Saya tertawa hampa dan meraih Coffee Latte yang sempat terlupakan. Mata saya terasa panas lagi.

“Lo mau gue sama Jo nginep di rumah?” tanya Ninna setelah sekian lama kami saling diam. Saya tahu mereka tidak perlu jawaban apapun. Kami sudah terlalu mengenal satu sama lain.

*

“Itu akun Instagram Mario, kan?” tanya gue dari balik bahu Joanna. Kami sudah sampai di rumah dan sedang mengobrol di kamar. Joanna duduk di karpet sementara saya dan Ninna sedang rebahan di kasur.

Well, yes.” Jawab Joanna pelan sambil segera men-scroll ke foto selanjutnya, tetapi terlambat. Saya sudah melihat. Lagipula, apapun yang di-post Mario tidak akan membuat saya merasa lebih baik, jadi kenapa harus menghindar?

“Setelah tadi foto tangannya aja, sekarang sama mukanya?” kata Ninna sinis. Ternyata ia juga ikut melihat dari balik bahu Joanna.

Ya, kali ini Mario mem-post foto wajah perempuan. Dengan kacamata dan bibir tipis. Setengah wajahnya tertutup poni dan rambut yang panjangnya sepundak.

“Cantikan lo, Chel.” Celetuk Joanna. Saya hanya tertawa karena tidak merasa seyakin itu. Saya juga memiliki bibir yang tipis dengan rambut agak bergelombang dan sedikit lebih panjang dari perempuan itu. Mungkin Mario tidak suka perempuan yang rambutnya melebihi pundak, atau ia lebih menyukai perempuan yang memakai kacamata. Entahlah.

“Mau cantikan gue juga, tetep aja yang di-post bukan foto gue, Jo.” Ucap saya, “Awalnya gue kira dia nggak suka posting sesuatu yang terlalu pribadi.”

“Ternyata elonya aja yang bukan bagian dari kehidupan pribadi Mario ya, Chel.” Ninna menyelesaikan kalimat saya dengan tepat sasaran, walaupun pedas.

“Hahahaha. Bullshit! Makan tuh cinta!” Saya berseru kesal. Entah kesal pada siapa. Pada Mario karena tiba-tiba sudah berhubungan dengan perempuan lain, padahal saya juga bukan siapa-siapanya? Pada Joanna karena entah kenapa hari ini ia senang membuka instagram? Pada diri sendiri karena begitu bodoh? Pada siapa?

“Chel, pipi lo basah.” Kata Ninna pelan sambil mengulurkan tisu.

*

“Gue boleh kirim direct message nggak, ke Mario?” tanya Joanna tiba-tiba.

“Buat apa, Jo? Jangan suka terlalu ikut campur.” Ninna menasihati. Ada benarnya juga. Kalau Joanna terbawa emosi, dia bisa menjadi sangat agresif.

“Kirim, Jo!” Ah, saya sendiri sepertinya sedang dilanda emosi yang berlebihan sehingga tidak bisa berpikir jernih.

“Nggak usah.” Ninna berkata pelan, tapi tegas.

“Kenapa?”

“Karena Mario baru aja ngirim chat ke lo.” Kata Ninna lagi, sambil menyerahkan handphone saya yang berkedip menunjukkan pesan masuk.

Joanna berbalik, memandangi handphone dan saya bergantian.

*

Mario: Rachel, maaf.

Rachel: Untuk?

Mario: Kesakitan yang mungkin udah saya buat.

Rachel: Kalau dari awal kamu tahu ini akan menyakiti saya, kenapa kamu lakukan?

Mario: Makanya, saya minta maaf.

Rachel: Sebetulnya apa yang kamu inginkan? Diri saya atau maaf dari saya?

Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Tidak ada balasan apapun. Ninna dan Joanna sudah menyerah. Mereka sempat menyuruh saya untuk tidak mengacuhkan pesan dari Mario, tapi saya tidak bisa. Kalau memang saya harus kalah, saya ingin tahu kenapa saya bisa kalah.

Tiga puluh menit. Saya meraih handphone. Ninna menahan tangan saya.

“Nggak usah menunjukkan kelemahan lo depan dia, Chel.”

“Biarin, Na. Biar Mario tahu sekalian. Biarin dia bahagia di atas rasa bersalahnya. Dia nggak akan tenang, gue yakin.” Kata Joanna pelan. Perempuan ini benar-benar pendendam. Ia sudah beranjak naik ke kasur dan mengusap-usap punggung saya pelan. Membuat saya ingin menangis.

Rachel: Saya pikir kamu abadi.

Mario: Maafin saya, Chel. Saya sayang sama kamu, kamu tahu itu.

Rachel: Masih berani kamu bilang sayang? Kamu tahu, butuh waktu lama buat saya sampai akhirnya bisa percaya sama kamu. Sekarang setelah saya percaya, kamu malah pergi.

Mario: Maafin saya, Chel.

Rachel: Kamu tahu saya takut jatuh cinta lagi. Setelah ketemu kamu, saya berani. Sekarang saya lebih takut dari dulu. Gara-gara siapa? Kamu.

Mario: Rachel, maafin saya. Saya benar-benar minta maaf udah menyakiti kamu. Tapi kamu harus tahu satu hal. Hubungan kita yang nggak kemana-mana nggak cukup buat saya. Saya nggak pernah bisa yakin kamu benar-benar sayang sama saya atau enggak. Saya harus menerka-nerka jalan pikiran kamu, keinginan kamu, apakah kamu memang tertarik menjalani hidup dengan saya atau enggak. Kemudian saya menemukan dia. Bersama dia, hidup saya terasa lebih berarti. Saya merasa diinginkan, dicari, dibutuhkan. Saya merasa penting di matanya. Hal yang nggak saya temukan dari kamu. Maafin saya.

Tangis saya meledak di pelukan Joanna dan Ninna.

*

08.30 WIB.

Feel better?” tanya Joanna sambil menyerahkan segelas besar teh panas. Saya hanya diam. Saya tidak benar-benar tahu apa yang sedang dirasakan saat ini. Ninna menyodorkan sepiring roti bakar buatannya. Mereka sudah terbiasa menggunakan dapur, lagipula tidak ada siapa-siapa di rumah.

“Ternyata kesalahannya ada di gue, ya. Seperti biasa.” Kata saya pelan sambil menyeruput teh.

“Lo mau denger omongan kita, nggak?” Ninna balik bertanya. Saya hanya menatapnya sambil mengangkat alis.

“Nggak ada yang harus disalahkan di cerita ini, Chel. Kalian berdua cuma bukan orang yang tepat untuk satu sama lain. Sesederhana itu.” kata Ninna lagi.

“Terus berapa kali lagi gue harus ketemu orang yang salah?”

“Nggak ada yang tahu, Chel.” Jawab Joanna santai. “Itulah kenapa kita nggak boleh menyerah, menolak buat jatuh cinta lagi. Karena semakin banyak kita mencari, semakin banyak yang kita temukan. It’s okay kalau mungkin setelah ini lo ketemu orang yang salah lagi, tapi jatah lo untuk ketemu mereka semakin berkurang dan memperbesar kesempatan lo juga untuk ketemu sama orang yang tepat. Besides, setiap orang yang hadir ke dalam hidup kita punya tujuan masing-masing, kok. Sebagai ujian ataupun jawaban, mereka akan mengajarkan hal yang berbeda buat kita. Sehingga ketika kita bertemu orang yang tepat, kita akan benar-benar siap.” Lanjutnya panjang lebar.

“Tapi gue belum siap buat jatuh cinta lagi, dan nggak tahu kapan siapnya.”

“Itu terserah lo, mulailah di saat lo benar-benar siap. Toh, semua ada waktunya masing-masing. Ketika lo siap buat jatuh cinta lagi, mungkin saat itu juga orang yang tepat memang udah ada di depan mata.” Kali ini Ninna yang menanggapi.

“Sekarang sembuhin aja dulu luka-luka lo. Ketika suatu saat lo ketemu orang baru, jangan takut mereka akan melukai lo. Cause they will. Mereka pasti akan melukai lo, tapi cuma orang yang paling tepat yang bisa melukai sekaligus mengobati.” Kata Joanna.

Saya tidak menjawab, berusaha mencerna perkataan mereka.

“Tapi….” Sanggahan saya menggantung di udara. Joanna dan Ninna menatap saya, menunggu argumentasi yang siap mereka patahkan.

“Memangnya ada, ya, orang yang mau sama gue? Yang benar-benar tepat buat gue?” Lanjut saya pelan.

“Chel,” kata Joanna setelah menghela napas. “Percaya, deh. Gue pernah kok patah hati sepatah-patahnya. Gue nggak tahu, ya, apakah yang kita rasa itu sama. Tapi gue pernah nggak percaya lagi sama cinta kayak apa yang lo rasa sekarang. Gue pernah berjanji sama diri sendiri untuk nggak jatuh cinta lagi sama orang, untuk nggak berkomitmen lagi sama orang. Terus lo tahu? Tiba-tiba Tuhan ngirim Angga. Berapa kali gue ragu sama dia? Sering. Tapi dia nggak pernah pergi. Berapa kali dia nyakitin atau bikin salah? Banyak. Tapi dia juga yang mengobatinya. Berapa kali gue berdoa sama Tuhan, minta ditunjukkan yang terbenar supaya kalau Angga bukan orang yang tepat dia bisa segera pergi? Mungkin setiap malam. Tapi kenyataannya, Angga nggak pergi. Dan lo tahu sendiri gimana cerita kami berdua.” Katanya panjang lebar sambil mengacungkan cincin di jari manisnya, cincin tunangan yang diberikan Angga beberapa minggu lalu.

“Just let it be, Chel. Everything will be fine.” Kata Ninna pelan.

Saya terdiam. Mencoba memercayai kata-kata mereka.

*

Dua bulan kemudian

“Serius?” pekik Joanna yang langsung disikut Ninna.

“Berisik, lo. Kita lagi di kafe ini!” bisik Ninna. Benar saja, orang-orang di sekeliling kami langsung menengok kea rah Joanna.

“Ups, sorry. Jadi, serius, Chel?” tanya Joanna lagi, kali ini sambil berbisik.

Saya hanya tersipu malu dan menunjukkan cincin bermata berlian yang bertengger anggun di jari manis.

So happy for you! Gila, baru kemarin selesai kehebohan persiapan nikahan gue, udah sibuk lagi nih, kita.” Kata Joanna senang.

Ninna tersenyum simpul, “Bener kan, omongan gue?” katanya sambil menatap saya. “Suatu hari lo akan menemukan orang yang tepat, di waktu yang tepat.”
Saya tersenyum dan mengangguk. Satu bulan setelah patah hati, saya bertemu dengan pria bernama Adnan yang baru saja masuk kantor tempat saya bekerja. Awalnya saya tidak mengacuhkannya sama sekali. Tetapi karena satu divisi, kami jadi sering berkomunikasi. Hingga tiba-tiba, semua mengalir begitu saja.

“Mungkin gini kali, ya….” Ucap saya, “Lo akan tahu kapan lo ketemu orang yang tepat. Karena setelah berkali-kali ketemu orang yang salah, lo akan menyadari perbedaannya.”

“Apa?” tanya Ninna penasaran.

“Bersama orang yang tepat, jatuh cinta nggak akan terasa sulit.” Jawab saya sambil tersenyum.

“Bersama orang yang tepat, lo akan lupa kalau pernah bersumpah nggak mau jatuh cinta lagi.” Ralat Joanna.

Saya mengangguk, menyetujui ucapan Joanna.

Dalam hati, saya bersyukur pada Tuhan karena mempertemukan saya dengan Adnan yang menjadi penyembuh semua luka. Adnan yang membuat saya berani untuk jatuh cinta, setakut apapun saya pada awalnya.

*

Advertisements
0

Imaji Masa Depan

Menikah bukan cuma tentang yang indah-indah, tapi malam ini, izinkan aku berimajinasi.

Suatu hari nanti, aku akan menunggu di rumah mungil yang kita berdua tinggali. Aku pulang kerja lebih awal daripada kamu, sehingga aku sempat merapikan rumah, membersihkan tubuh dan memasak sedikit makanan kesukaanmu.

Continue reading

0

Nona Pecinta Hujan [Part 2]

Lagi-lagi, hujan turun sejak pagi. Nona pecinta hujan terduduk di sofa, menghadap jendela kamarnya. Jemarinya menggenggam secangkir coklat yang tak lagi hangat. Mata kecilnya memandangi rinai hujan yang seolah berbalapan menuju tanah satu sama lain.

“Disini sedang turun hujan, tuan. Bagaimana kabarmu, masihkah kau mengingatku?” seperti mantra, kalimat itu terbentuk dalam sanubarinya setiap kali hujan turun. Dan seperti biasa pula, matanya membentuk kaca-kaca bening yang siap tumpah setiap kali hujan menyapa.

Continue reading

0

Cara merayakan rindu

Kata orang rindu itu indah,

Namun bagiku ini menyiksa.

– Melly Goeslaw

Hampir semua orang pernah merasakan rindu, tapi tidak semua tahu bagaimana cara menyampaikannya.

Penyair mungkin akan melahirkan berjuta puisi.

Sementara ia mungkin kan mencipta banyak lagu khusus untukmu.

Yang lain?

Mungkin hanya bisa mengucap doa, berharap kau baik-baik saja.

Continue reading

0

“Kapan Nikah?” (A Short Story)

080010500_1437311031-4_ayokupas_com

Hai, namaku Kanaya Wulansari. Aku biasa dipanggil Naya oleh keluarga dan teman-teman di kampusku. Aku lahir sekitar 22 tahun yang lalu, pada hari Sabtu ketika matahari baru saja terbenam. Ayahku seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta yang juga biasa. Ibuku hanya ibu rumah tangga yang tetap mengurus anak perempuannya seolah-olah aku masih berusia 8 tahun.

Continue reading