0

Setengah Windu

huffingtonpost[dot]com

Katamu, jarak hanya kata.

Katamu kita bisa taklukkan semua, aku hanya perlu tenang dan bersabar sedikit saja.

Bodohnya, aku begitu saja percaya.

Continue reading

Advertisements
0

Persiapan Pernikahan

Aku Ami, perempuan berusia 25 tahun yang memiliki pacar bernama Deni. Kami sudah lama sekali berpacaran hingga akhirnya Deni melamarku bulan lalu.

Sebagai perempuan yang hanya bisa menunggu, tentu saja aku bahagia bukan kepalang. Setelah bertahun-tahun bersama, akhirnya ia menunjukkan keseriusannya padaku.

Continue reading

0

Iya

Bertahun  mendampingimu, bercakap tentang mimpi-mimpi dan harapan yang ingin kuwujudkan, tentang segala angan dan ingin, tentang semua cita dan semoga.

Bertahun menikmati binar matamu, menggenggam erat jemari, menyandarkan diri pada kokohnya pundak.

Semua milikmu, semua tentangmu.

Continue reading

0

[Short Story] Story About A Healed Broken Heart.

23.30 WIB

Saya nggak menangis. Saya hanya sedang berbaring di atas kasur, menghadap langit-langit kamar. Sibuk menghitung kerlip lampu pohon natal yang dialihfungsikan menjadi lampu kamar. Pikiran saya sudah berkelana demikian jauh meninggalkan pemiliknya. Tepat di kerlipan lampu paling ujung, pikiran saya kembali dan membisikkan satu kesimpulan.

Saya nggak mau jatuh cinta lagi.

  Continue reading

0

Imaji Masa Depan

Menikah bukan cuma tentang yang indah-indah, tapi malam ini, izinkan aku berimajinasi.

Suatu hari nanti, aku akan menunggu di rumah mungil yang kita berdua tinggali. Aku pulang kerja lebih awal daripada kamu, sehingga aku sempat merapikan rumah, membersihkan tubuh dan memasak sedikit makanan kesukaanmu.

Continue reading

0

Nona Pecinta Hujan [Part 2]

Lagi-lagi, hujan turun sejak pagi. Nona pecinta hujan terduduk di sofa, menghadap jendela kamarnya. Jemarinya menggenggam secangkir coklat yang tak lagi hangat. Mata kecilnya memandangi rinai hujan yang seolah berbalapan menuju tanah satu sama lain.

“Disini sedang turun hujan, tuan. Bagaimana kabarmu, masihkah kau mengingatku?” seperti mantra, kalimat itu terbentuk dalam sanubarinya setiap kali hujan turun. Dan seperti biasa pula, matanya membentuk kaca-kaca bening yang siap tumpah setiap kali hujan menyapa.

Continue reading