Posted in Cinta-cintaan, puisi

Setengah Windu

huffingtonpost[dot]com

Katamu, jarak hanya kata.

Katamu kita bisa taklukkan semua, aku hanya perlu tenang dan bersabar sedikit saja.

Bodohnya, aku begitu saja percaya.

Senja itu sendu, kita berdiri malu-malu di ruang tunggu. Deru kereta dan bising suara memenuhi telinga.

Kau genggam tanganku dan berkata, semua akan baik-baik saja.

Saat itu, aku membuat kesalahan besar dengan mempercayaimu begitu saja.

 

Setengah windu berlalu, aku habiskan dengan menunggumu.

Berusaha tetap percaya di tengah segala ragu yang mendera. Berdiri sendiri di tengah kemelut luka yang perlahan menyayat rasa percaya. Menatap cemas deretan pesan yang tak juga kau baca, mensyukuri keberadaanmu dari foto-foto yang kau unggah di sosial media.

Setidaknya kau sehat-sehat saja, tak mengapa meski mungkin kau lupa bahwa ku masih ada.

 

Setengah windu berlalu, malam-malamku penuh terisi segala doa baik untukmu.

Betapa setiap malam air mataku tumpah di atas sajadah, mengadukan segala rindu, memohonkan yang terbaik untukmu, meminta agar perjalanan kita tetap indah hingga akhir cerita walau perlahan ketakutanku mengikis rasa.

 

Setengah windu penantianku, ternyata tak berakhir sesuai rencana.

Kau bilang tak bisa melanjutkan semuanya. Katamu kau tak mampu buatku bahagia, katamu tak bisa kau menjadi seperti yang kupinta. Memangnya apa yang kupinta selain kau segera pulang? Aku hanya ingin menikmati wajahmu lagi, mungkin terlalu berat untuk kau wujudkan, mungkin terlalu mustahil untuk kau kabulkan.

 

Ternyata butuh waktu setengah windu menyadarkanku bahwa aku dan kamu tidak pulang ke rumah yang sama. Bahwa kita ternyata menapaki jalur yang berbeda; kamu ke barat dan aku ke utara, aku mencinta dan kamu sudah lupa.

Kini aku bersusah payah merapikan kepingan hati yang patah, dan kau asyik menari di atasnya. Aku masih merangkak-rangkak melupakanmu yang ternyata tak pernah mengingatku. Aku tertatih belajar tertawa sementara kamu menertawakanku yang penuh luka.

Dan aku di sini, sibuk dibodohi. Tertawa di atas luka hati. Mencoba mengobati rasa percaya dan belajar jatuh cinta lagi yang aku tak yakin bisa. Bagimu mungkin hanya hubungan sementara, tanpa kau mengerti bahwa aku pernah meminta pada Tuhan untuk membuatmu di sisiku selamanya.

 

Dan aku di sini, mencoba melupakan segala percakapan kita. Tentang masa depan yang kita dahului, tentang kau yang pernah berkata tak ingin sekedar menjalin hubungan biasa, hingga janjimu menjadi sosok yang akan menemaniku hingga tua nanti.

Hahahaha, lalu kau pergi di saat aku percaya semua omonganmu akan menjadi nyata. Janji manis yang ternyata tak ada buktinya. Bukan salahmu, salahku yang begitu saja percaya.

 

Atas nyaris satu dekade yang kuhabiskan sia-sia, biar semua menjadi salahku saja. silakan berbahagia melanjutkan perjalananmu yang tanpa aku, semoga tak kau temui seseorang yang melukaimu seperti kau hancurkan segala mimpiku.

 

Karena dalam perjalananmu yang panjang itu, terselip sedikit doaku.

 

Bogor, 22 April 2018

00.19 WIB

 

 

Advertisements

Author:

a daydreamer, childish, ambitious, extremely introvert person. i'm trying to make myself immortal by writing anything.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s