Persiapan Pernikahan

Aku Ami, perempuan berusia 25 tahun yang memiliki pacar bernama Deni. Kami sudah lama sekali berpacaran hingga akhirnya Deni melamarku bulan lalu.

Sebagai perempuan yang hanya bisa menunggu, tentu saja aku bahagia bukan kepalang. Setelah bertahun-tahun bersama, akhirnya ia menunjukkan keseriusannya padaku.

Aku pun sibuk menyusun berbagai rencana dan persiapan pernikahan. Dekorasi, souvenir, gaun, hingga jenis makanan. Aku tidak menyiapkan semuanya sendirian, tapi ditemani sahabatku sejak kecil, Nina.

Ya, Nina selalu menemani dan mendengarkan setiap rencanaku. Ia jarang menolak dan berusaha mengikuti keinginanku. Aku rasa ia mengerti, aku ingin semuanya berjalan lancar di hari pernikahan yang sudah lama kutunggu.

“Kalau tema dekorasinya rustic, bagus ya, Nin?”

“Iya, Mi. Apalagi gaunmu warna putih. Cocok.”

“Aku juga pingin pelaminanku dihias lampu-lampu kecil. Yang kayak lampu natal itu loh, Nin. Bagus nggak, ya?”

“Bagus kok, Mi. Kalau untuk souvenir, kamu jadi pesan apa?”

“Hmm… Bibit tanaman aja, Nin. Supaya cocok dengan tema dekorasinya.”

Nina tidak menjawab. Ia hanya menatapku sambil tersenyum tipis.

“Kenapa, Mi? Ideku jelek, ya? Bagusnya pesan apa, ya, untuk souvenir?”

Nina masih diam. Ia hanya menggeleng dan tersenyum. Entah kenapa, wajahnya terlihat sedih di mataku.

“Kamu kenapa, Nin? Eh, Deni kok belum datang, ya? Padahal aku udah bilang loh kalau hari ini kita mau nyusun daftar tamu undangan. Ah, kebiasaan nih dia suka ngaret!”

“Mi…”

“Kenapa, Nin?”

“Mi, Deni udah meninggal bulan lalu!”

“Apa sih, Nin? Kamu bercanda, ya? Aku kan dilamar sama dia bulan lalu, masa kamu lupa!” Aku menjawab sambil tertawa.

“Mi, mau sampai kapan kamu lupa? Kalian kecelakaan di jalan pulang dan Deni meninggal, Mi!” Ami terisak kencang dan mengguncang-guncang tubuhku. Aku menyentakkan tubuhku kasar dan menatap Nina gusar.

“Nin, jangan ngarang, ya! Deni tuh masih hidup! Kita berdua mau ketemu hari ini buat nyusun daftar tamu undangan!”

Aku kembali sibuk dengan foto-foto dekorasi pernikahan sementara Nina mengempaskan tubuhnya di kursi kayu kaku yang sejak tadi ia duduki. Air matanya tak henti mengalir deras sembari menatapku yang tengah duduk di kursi yang sama sepertinya, di sebuah kamar dalam rumah sakit jiwa.

Bogor, 26 April 2018

10.52 WIB

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s