Sebuah Pengingat dari Jendela Kereta

Sore itu, saya terjebak di antara banyak orang yang juga baru pulang setelah sibuk membanting tulang. Saya terdesak di tengah ribuan orang yang dilanda keletihan. Saya ikut menghela napas lelah dan memandang kosong tanpa arah bersama mereka.

Sore itu, saya sedang naik kereta pukul enam dari Stasiun Jayakarta menuju Bogor.

Menjadi seorang penumpang komuter adalah kesibukan dan pengalaman yang baru-baru ini saya jalani. Tepatnya, sejak saya memutuskan bekerja di Ibu kota. Tidak terlalu jauh dari rumah, memang. Tapi ada perjalanan panjang yang harus ditempuh.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Sore itu, seperti biasa, saya tidak kebagian bangku dan terpaksa harus berdiri. (lagipula, tidak ada pilihan lain) Saya yang biasanya berdiri menghadap ke Barat kali ini menghadap ke Timur. Tidak ada alasan apapun, karena ingin saja. Mungkin karena saya bosan melihat pemandangan yang itu-itu saja, mungkin juga karena kebetulan lebih dekat dengan pintu.

Atau mungkin karena Tuhan ingin menunjukkan saya sesuatu.

Sekitar pukul 18.30, komuter yang saya tumpangi tiba di Stasiun Manggarai yang tengah direnovasi. Pandangan saya dipenuhi lahan yang akan dibangun rel dan beberapa pekerjanya yang sedang beristirahat. Kebanyakan dari mereka sedang rebahan atau mengobrol dengan teman.

Tapi, ada satu sosok yang menarik perhatian saya.

Seorang bapak tengah bangun dari sujudnya di lahan pembangunan rel kereta api. Ia tengah melaksanakan salat maghrib. Sempat saya lihat beliau kembali berdiri setelah mengucap salam, rupanya ia melanjutkan salat sunnah.

Hati saya yang tengah lelah tersentuh.

Berapa kali dalam hidup saya dengan sengaja menunda salat? Entah dengan alasan masih lelah, mukena di musala umum yang kotor hingga terburu waktu.

Sementara bapak itu melaksanakan salat di atas tanah dengan dialasi sajadah seadanya, juga dengan kelelahan yang pasti jauh diatas yang saya rasakan.

Astagfirullah…

Kenapa begitu mudah untuk saya menunda dan beralasan? Padahal Tuhan bisa langsung mengambil semua yang saya punya tanpa kesulitan.

Astagfirullah…

Kenapa begitu mudah untuk saya mengakhirkan ibadah, padahal saat saya meminta Ia tak pernah menunda-nunda?

Pemandangan sore itu, sukses membuat saya berpikir keras.

Betapa selama ini, bisa jadi saya hanyalah hamba yang tidak tahu diri.

 

Jakarta, 20 Desember 2017

12.35 WIB.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s