Imaji Masa Depan

Menikah bukan cuma tentang yang indah-indah, tapi malam ini, izinkan aku berimajinasi.

Suatu hari nanti, aku akan menunggu di rumah mungil yang kita berdua tinggali. Aku pulang kerja lebih awal daripada kamu, sehingga aku sempat merapikan rumah, membersihkan tubuh dan memasak sedikit makanan kesukaanmu.

Kau akan tiba di rumah ketika senja menyapa, terlihat letih namun senyummu masih saja ada. Aku menunggu dengan secangkir teh hangat, minuman kesukaanmu sejak kita masih berpacaran dulu.

Aku senang melihatmu duduk di teras rumah kita, memintamu meminum teh sementara aku menyimpan tas kerjamu. Merapikan kaus kaki dan sepatu yang kau pakai seharian. Lalu kita akan duduk berdua, aku melihatmu menyeruput teh seraya menceritakan hari yang telah kita lewati di tempat berbeda.

Lalu percakapan kita disadarkan oleh langit yang semakin gelap. Kita melangkah masuk ke dalam rumah, kau mulai membersihkan diri sementara aku menutup jendela. Tak lupa sebelumnya ku siapkan air hangat untukmu mandi, hanya supaya kau kembali segar setelah sesiangan melewati hari.

Aku sudah siapkan sedikit makanan kesukaanmu, cukup untuk mengenyangkan perut kita malam ini. Aku senang melihatmu makan dengan lahap, menyukai masakanku yang mungkin belum terlalu enak. Kita tak banyak bicara saat itu sebab katamu, kita sedang menikmati rejeki dari Tuhan. Dan aku, terlalu bahagia hanya dengan menatapmu.

Kita habiskan sisa malam dengan menonton televisi berdua, sekedar mengecek berita agar tak tertinggal informasi yang ada. Sesekali komentarmu terdengar, menanggapi setiap kata yang disampaikan pembawa acara. Ah, aku sudah terlalu terbiasa dengan kebiasaanmu. Aku tak ingin mendebat, biar saja. Kau hanya berpendapat.

Lalu kulihat matamu yang perlahan meredup. Ah, hari ini tentunya sangat melelahkan untuku. Kubangunkan kau dengan lembut dan mengajakmu pindah ke kamar tidur. Disana ku biarkan kau tertidur, dan setelah memastikan selimutmu rapi, aku beranjak keluar kamar.

Aku ingin menyelesaikan tulisan yang tertunda hari ini. Draf novel, editan artikel dan terjemahan naskah sudah menungguku. Aku selalu mencintaimu, tapi menulis adalah dunia yang tak bisa aku tinggalkan. Dan aku rela mengorbankan beberapa menit waktuku setelah melayanimu untuk duniaku.

Rasanya baru sebentar, tapi ketika ku lihat jam ternyata hampir larut malam. Saat ingin berjalan tuk membuat minuman hangat, ku dengar langkahmu pelan menghampiri. Kau tahu, malam begini pasti aku sedang berkutat dengan tulisanku. Tapi kau juga tahu, aku sering lupa batasan terhadap diriku sendiri. Maka kau mengusap kepalaku dan mengajakku tidur, mengingatkan bahwa masih ada hari esok yang harus kita jalani. Membuatku semakin mensyukuri atas kesempatan indah yang Tuhan berikan untuk mendapatkan karunia ini: hidup bersamamu.

 

Kelak, jika ternyata kita tak berjodoh, ingatlah bahwa aku pernah menulis mimpi seindah ini, untuk kujalani bersamamu.

 

Aku pernah mendoakanmu, meminta kau baik-baik saja dan memohon padaNya agar melancarkan apapun yang tengah kita jalani.

Kelak, jika kita memang ditakdirkan bersama dan hidup tidak semenyenangkan yang dibayangkan pada awalnya, ingatkan aku bahwa kehidupan akan berputar, bahwa Tuhan tak pernah tidur serta mendengarkan segala doa.

Juga kelak, jika kau ternyata bukan untukku, ingatlah bahwa aku, pernah membayangkan hidup yang indah bersamamu.

 

Bogor, 19 Juli 2017

23:44 WIB

Absurditas di tengah hujan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s