Nona Pecinta Hujan [Part 2]

Lagi-lagi, hujan turun sejak pagi. Nona pecinta hujan terduduk di sofa, menghadap jendela kamarnya. Jemarinya menggenggam secangkir coklat yang tak lagi hangat. Mata kecilnya memandangi rinai hujan yang seolah berbalapan menuju tanah satu sama lain.

“Disini sedang turun hujan, tuan. Bagaimana kabarmu, masihkah kau mengingatku?” seperti mantra, kalimat itu terbentuk dalam sanubarinya setiap kali hujan turun. Dan seperti biasa pula, matanya membentuk kaca-kaca bening yang siap tumpah setiap kali hujan menyapa.

Sudah sekian purnama terlewati, tak pernah sekalipun tuan menampakkan wajahnya lagi. Menemani nona menikmati hujan walau dalam diam. Ah, bukankah memang seperti itulah pengembara? Takkan menetap dalam waktu yang lama. Berkali-kali nona tanamkan pemikiran itu dalam kepalanya, berkali-kali pula runtuh karena ia terlalu rindu. Semua terasa terlalu berat sehingga ia putuskan satu hal; ia tak lagi ingin menikmati hujan, sebab di tengah derasnya ia seolah melihat bayangan tuan pengembara tersenyum di sisinya, dalam diam. Dan bagi nona itu menyakitkan, terlalu menyakitkan.

***

Tapi hari itu, Tuhan sedang bercanda.

Nona tengah berjalan di trotoar tepi taman, ketika hujan turun dengan derasnya. ‘Sial.’ bisiknya mengumpat. Jelas tidak ada tempat untuk berteduh disini. Dan itu berarti, ia harus menikmati hujan kali ini. Seluruh tubuhnya basah, tapi hatinya tak lagi senang seperti dulu. Ah, haruskah kita ganti nama tokoh ini menjadi Nona yang Membenci Hujan?

Tapi tiba-tiba ia merasa tak lagi kebasahan, padahal hujan masih sangat deras. Nona mendongak dan menyadari sebuah payung melindunginya. Siapa yang rela memayunginya agar ia tak kehujanan padahal orang itu sendiri tengah kuyup kebasahan? Ia menengok ke belakang dan menghadapi seorang lelaki berwajah teduh, melayangkan senyum tipisnya dan berkata, ‘ayo berjalan, kulindungi kau agar tak kebasahan.’ Nona hanya terdiam, kebingungan.

‘Aku sering melihatmu.’ Ucap lelaki itu setelah menghirup secangkir kopi di depannya. Mereka memutuskan berteduh di kafe pertama yang ditemui setelah lama berjalan, karena hujan semakin deras.

‘Aku sering melihatmu bermain hujan. Tapi itu sudah lama sekali. Kau tak lagi terlihat di tengah hujan akhir-akhir ini. Pernah kulihat kau sedang berjalan, tapi ketika hujan turun kau langsung menghindar dengan muka kesal.’ Lanjut lelaki itu, kemudian ia kembali menghirup kopinya. Nona tertegun, bagaimana orang ini bisa begitu hafal kebiasaannya?

‘Aku sering melewati daerah ini. Begitu juga kamu, kan? Makanya aku sering melihatmu. Aku senang melihatmu bermain hujan karena kamu terlihat…. Bahagia. Karena itu, aku diam-diam menyebutmu nona pecinta hujan. Well, maaf.’ Lelaki itu berkata lagi, seolah dapat membaca pikiran nona. Nona hanya tersenyum, tak ingin menjawab.

‘Tapi kenapa,’ lelaki itu kembali berbicara, ‘kamu tidak bermain hujan lagi, nona? Kamu bahkan terlihat kesal saat tadi hujan turun. Apakah ada hal yang pernah mengganggumu hingga kau kini merasa kesakitan saat hujan turun?’

‘Ah, aku….’ Nona berkata lirih, kemudian keluarlah semua cerita tentang ia dan tuan pengembara. Tak biasanya ia mau menceritakan hal-hal pribadi pada orang lain, apalagi yang baru dikenalnya. Tapi lelaki ini berbeda, ia merasa akrab. Seolah-olah mereka memang sudah lama berteman.

Lelaki itu lama terdiam sambil menyesap kopinya. Setelah sesapan terakhir, ia berkata,

‘Jangan meninggalkan hal yang kau cintai hanya karena pemeran pendukungnya hilang, nona. Ya, tuan pengembara itu hanya pemeran pendukung dalam kehidupanmu. Sebab jika ia memang tokoh utama, ia takkan pergi bukan?’ Nona terdiam, berusaha mencerna kalimat yang baru saja ia dengar.

‘Kamu tahu kenapa setiap kali hujan turun, kau merasa tersiksa? Bukan hanya karena rindu, tapi karena ada yang hilang dari dirimu. Bukan si pengembara, nona. Tapi kesenanganmu terhadap hujan. Bukankah kau menyukai hujan karena kau senang menikmati rintik airnya yang menyentuh tanganmu? Bukankah kau selalu menghampiri hujan karena kau selalu merasa kembali ke masa kecilmu? Jangan meninggalkan itu semua hanya karena orang yang bahkan kini kau tak tahu ada di mana.’ Lanjut lelaki tersebut.

‘Dan lagipula, bukankah sudah kukatakan aku senang melihatmu bermain hujan? Kau terlihat begitu bahagia, begitu bebas. Entah berapa banyak orang lagi yang merasakan seperti aku.’ Lelaki itu menutup pembicaraannya, tersenyum. Nona balas tersenyum, entah mengapa hatinya terasa hangat.

‘Hujannya sudah mulai reda. Kita keluar sekarang?’ tanya nona, sambil tersenyum.

‘Tunggu.’ Ucap lelaki itu, ‘kita belum berkenalan. Namaku angin.’ Ucapnya sambil mengulurkan tangan.

‘Ku kira namamu kopi.’ Nona menyeringai, kemudian balas menjabat tangannya. ‘panggil saja aku nona pecinta hujan.’ Keduanya saling tersenyum.

***

‘Jangan.’ Nona mencegah ketika angin hendak membuka payungnya.

‘Kenapa?’ tanya angin, yang dibalas dengan tarikan lembut di tangannya.

‘Temani aku di sini, bermain hujan.’ Kata nona sambil tertawa. Angin ikut tertawa, berdiri di sampingnya. Menikmati rintik yang menyapa. Menghirup dalam-dalam aroma petrichor yang menyejukkan.

‘Kenapa menangis?’ tanya angin kaget, ketika dilihatnya mata Nona sudah sembab.

‘Aku rindu berhujanan. Rindu sekali.’ Bisik nona sambil tersenyum basah.

‘Maka nikmatilah, tak usah menangis.’ Balas angin bingung.

‘Kenapa kamu lama sekali? Kenapa tidak sejak dulu menyadarkanku?’

‘Maaf, aku sudah lama memperhatikanmu tapi tak pernah berani menyapamu. Baru ada kesempatan kali ini, untung saja tidak aku sia-siakan.’

‘Tak apa.’ Nona tersenyum, ‘Sebab katanya, hal terbaik memang selalu datang belakangan.’

Angin menatap nona tak mengerti. Nona hanya tersenyum.

 

Mereka bertatapan di tengah rinai hujan, mencoba memahami kehadiran masing-masing.

 

‘Nona, kupastikan aku takkan pergi.’ Bisik Angin dalam hati.

 

Ucapan yang akhirnya menjadi doa yang dikabulkan Tuhan.

 

Bogor, 28 Januari 2017

14.05 WIB, setelah hujan reda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s