0

Nona Pecinta Hujan [Part 2]

Lagi-lagi, hujan turun sejak pagi. Nona pecinta hujan terduduk di sofa, menghadap jendela kamarnya. Jemarinya menggenggam secangkir coklat yang tak lagi hangat. Mata kecilnya memandangi rinai hujan yang seolah berbalapan menuju tanah satu sama lain.

β€œDisini sedang turun hujan, tuan. Bagaimana kabarmu, masihkah kau mengingatku?” seperti mantra, kalimat itu terbentuk dalam sanubarinya setiap kali hujan turun. Dan seperti biasa pula, matanya membentuk kaca-kaca bening yang siap tumpah setiap kali hujan menyapa.

Continue reading

Advertisements