Sahabat Tanpa Masa Aktif

Jadi begini, waktu masih SMP dan lagi lucu-lucunya (halah!) saya pernah punya tiga orang teman dekat. Dan seperti remaja SMP pada umumnya pula, kami membentuk sebuah geng. Kemana-mana kami selalu pergi berempat, kadang ditemani oleh pacar-pacar mereka (karena saat SMP saya nggak punya pacar. Hehe). Awalnya saya senang banget bergabung dengan mereka. Serasa udah ‘sah’ banget jadi remaja, karena punya geng yang dikenal banyak warga sekolah. Ditambah lagi tiga teman saya ini cantik-cantik, jadi makin bangga. Padahal buat apa juga, ya? Yang cantik kan mereka, bukan saya. Hahaha.

Oke, Lanjut.

Beberapa tahun kemudian, kami masuk ke SMA yang sama, tapi kelas yang berbeda. Mungkin seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pola pikir, lama-lama saya merasa sepertinya saya nggak nyambung lagi deh sama sahabat-sahabat saya yang sejak SMP ini. Kayaknya ‘dunia’ kami beda, deh. Dan begitulah, karena merasa ada perbedaan yang lama-lama berujung ketidakcocokan, akhirnya saya memutuskan menjauh. Semacam ‘turun level’ dari sahabat jadi teman biasa. Iya, teman biasa yang kalau ketemu paling cuma menyapa seadanya.

Sad, isn’t it?

Dan sejak itu, saya merasa kalau sahabat itu ada batas waktunya, ada masa aktifnya.

Nanti, setelah terpisahkan oleh waktu, kesibukan dan teman-teman baru yang berbeda ya akan terasa sendiri juga jaraknya.

Sejak itu pula, saya memutuskan untuk nggak terlalu dekat dengan orang-orang. Buat apa, sih? Toh nanti juga akan jadi asing satu sama lain.

Buat apa kita saling mengenal kalau ujungnya tidak lagi saling menyapa?

But well…

Tuhan menggoda kesombongan saya yang merasa seolah nggak butuh siapa-siapa dengan menghadirkan beberapa orang ke dalam kehidupan.

Semasa SMP, saya tergabung dalam OSIS. Dan di organisasi inilah saya menemukan beberapa orang yang ternyata masih mau hadir dalam hidup saya sampai sekarang.

Kebanyakan dari kami melanjutkan sekolah ke SMA yang berbeda, hingga sekarang terpencar ke beberapa wilayah. Bahkan ada juga yang sudah memulai hidup barunya. Tapi syukurlah, sampai sekarang tidak ada jarak yang membatasi kami. Bahkan hanya untuk sekedar saling sapa, menanyakan kabar atau bahkan menggerecoki salah satu orang untuk sekedar curhat.

Begitupun di SMA, saya menemukan beberapa orang yang ‘satu frekuensi’ dengan saya. Yang mau mendengarkan dan didengarkan saya sampai sekarang. Orang-orang yang walaupun sudah beranjak dewasa, ketika berkumpul semua kedewasaan dan keanggunan itu lenyap entah kemana.

Tuhan menyadarkan saya dengan cara-Nya bahwa saya memang tidak seharusnya sendirian. Bahwa ada orang-orang yang selalu hadir dalam hidup saya, tanpa batas waktu atau perbedaan.

Orang-orang yang bisa saya hubungi, hanya sekedar untuk bercerita.

Orang-orang yang akan menegur saya tepat di depan muka ketika saya melakukan kesalahan dan memuji di belakang ketika ada hal baik yang saya lakukan. (Well, mudah-mudahan..)

Orang-orang yang saya sebut ‘sahabat’, tanpa masa aktif.

 

Bogor, 20 Desember 2016

14.52 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s