Belajar dari anak-anak

Namanya Nabila. Gadis kecil ini sangat ramah dan penyayang. Hampir setiap warga sekolah mengenalnya karena siapapun yang lewat di depan matanya akan ia sapa; sapaan ceria khas anak-anak, kadang diselingi dengan celotehan polos yang bagi orang dewasa seperti tidak perlu.

Nabila baru duduk di kelas dua sd dan memiliki riwayat penyakit yang cukup berat untuk anak seusianya. Tapi baginya, semua itu tidak penting. Nabila tetap bersikap ramah pada semua orang, tersenyum dan menyapa, serta sesekali memeluk. Iya, memeluk siapa saja yang sedang ia ajak bicara.

Pernah suatu kali ia menghampiriku, tersenyum dan memeluk tubuhku erat sambil matanya tetap tersenyum menatapku. Aku yang saat itu tengah dilanda jenuh akan
pekerjaan, luluh. Balas menatap dan memeluknya. Lalu ia melepas pelukanku, tersenyum dan pergi untuk kemudian menyapa orang lain–dan memeluknya.

Sederhana, bukan? Tapi mengapa rasanya begitu hangat?

Gadis kedua bernama Zalfa. Sedikit lebih besar dari Nabila, sekarang ia duduk di kelas lima.

Beberapa tahun yang lalu ia pernah menghampiriku yang tengah sibuk bekerja. Tanpa bicara, Zalfa duduk di sampingku. Matanya berkaca-kaca.

“Kenapa, fa?” tanyaku. Zalfa masih terdiam, kaca di matanya hampir pecah.
“Berantem sama teman?” tanyaku lagi. Zalfa menggelengkan kepalanya.
“Kenapa atuh?” tanyaku geli sekaligus bingung. Gadis kecil ini sudah menunjukkan tanda-tanda akan menangis.
“Tadi aku dititipkan uang sama bunda untuk bayar SPP, tapi aku lupa; uang kembaliannya aku pakai untuk jajan.” jawab Zalfa, suaranya terbata-bata menahan tangis.
“Berapa yang dipakai jajan?” tanyaku.
“Seribu…” jawabnya. Kali ini tangisnya pecah. Sementara aku tersentak. Merasakan campuran haru dan malu di dada.

Singkat cerita, aku mencoba menenangkan Zalfa. Ku katakan padanya bahwa bundanya tidak akan marah kalau Zalfa mau menceritakan yang sebenarnya sambil meminta maaf. Ku ingatkan juga ia untuk berjanji agar tidak mengulangi lagi. Setelah
lama dibujuk dan diyakinkan, akhirnya ia mengangguk. Terlihat jelas ia ketakutan karena telah mengambil yang ‘bukan haknya’. Walaupun memang keesokan harinya ia kembali lagi sambil tersenyum dan bercerita bahwa bundanya hanya tertawa
ketika Zalfa mengakui kesalahannya, pokok permasalahannya bukan itu. Tapi betapa ia adalah anak yang jujur, yang begitu takut mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Sekecil apapun itu.

Sudah cukup cerita singkat tentang kedua gadis kecil ini.
Sekarang, mari kita bercermin.
Di usia kita sekarang; yang jelas jauh berbeda dengan Nabila dan Zalfa, apakah kita masih mengingat hal-hal sederhana tersebut?

Bisakah kita seperti Nabila, yang selalu bersikap ramah pada siapapun? Selalu menyapa dan tersenyum kepada orang-orang di sekitar, tak peduli walaupun diri sendiri sebenarnya sedang memikul masalah? Bukankah kita lebih sering tenggelam oleh persoalan-persoalan yang kita miliki, menganggap beban yang kita pikul paling berat? Masihkah kita memiliki sedikit kepedulian untuk memperhatikan orang-orang di sekeliling, barangkali ada yang perlu bantuan; sekedar tuk memberi usapan di punggung atau ucapan pembangkit semangat kala mereka merasa hidup begitu melelahkan? Atau kita sudah merasa apapun yang sedang kita jalani adalah yang paling sulit sehingga orang lain tak perlu diperhatikan?

Atau bisakah kita seperti Zalfa, yang menanam kejujuran dan tanggung jawab dalam dirinya? Ketakutan ketika mengambil yang bukan haknya, sekecil dan seremeh apapun. Atau kita lupa dan begitu leluasa menyalahgunakan apa-apa yang sebenarnya bukan hak kita? Entah uang ataupun waktu, bukankah kelak kesalahan sebesar biji zarrah pun akan dipertanggungjawabkan?

Menjadi orang dewasa memang berat dan seringkali melelahkan. Tapi semoga kita tidak pernah lupa akan nilai-nilai sederhana yang selalu memiliki dampak besar.

Sesederhana perhatian dan kejujuran.

Sebab bukankah jujur dan bersikap baik adalah apa yang diajarkan bunda sejak kita mulai mengenali dunia?

Bogor, 17 Desember 2016.
18.19 WIB.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s