Nona Pecinta Hujan

Kuceritakan padamu tentang ia yang membenci hujan. Tentang ia yang selalu menghindar kala gerimis mulai menyapa. Tentang senyumnya yang langsung menghilang saat rintik air menyentuh pundaknya.

Dahulu, ia pernah mensyukuri tiap titik hujan. Ia berlari keluar saat titik-titik air dari awan membasahi bumi. Ia biarkan hujan membasahi kepala dan tubuhnya, menghirup dalam-dalam aroma petrichor yang katanya menenangkan.

Suatu hari, ia bertemu seorang tuan di tengah hujan. Pengembara dari ujung sana, biasanya hanya sekedar lewat tuk menyapa. Kali ini menemaninya berhujanan. Awalnya ia tak peduli, tapi si pengembara selalu ada. Tersenyum padanya, kadang berdiri disampingnya, ikut menikmati hujan yang membasahi badan hingga kuyup.

Lalu ia bertanya, “Siapa kamu?”
Pengembara itu hanya tersenyum.
“Aku menemanimu menikmati hujan, supaya kau tidak sendirian.”
Nona pecinta hujan tersentak. Benarkah ada orang yang rela kebasahan hanya tuk temaninya bermain hujan?

Hari berganti, Nona pecinta hujan tak lagi berdiri sendirian.
Tuan pengembara selalu setia menemaninya, walau dalam diam. Mereka tak hanya berdiri, kadang saling tersenyum, kadang ada tangan yang saling menggenggam walau sekilas dan segera dilepaskan. Dalam diam tersadar, jauh di lubuk hati mereka tak ingin saling kehilangan.

Suatu malam, hujan turun begitu deras. Nona pecinta hujan memandang keluar, ingin menikmati titik-titik air yang membasahi jendela rumahnya. Tiba-tiba hatinya membayangkan andai saja tuan pengembara ada disisinya, bersama-sama menikmati hujan dari balik jendela sambil menyeruput secangkir coklat panas.

Tapi pengembara tetaplah pengembara. Tak pernah menetap pada satu tempat untuk waktu yang lama. Selang beberapa hari, ia pergi. Meninggalkan nona pecinta hujan penuh tanya. Tak ada satupun kata perpisahan ia ucapkan.

Nona pecinta hujan tak menyangka akan ditinggalkan. Ia tak pernah membayangkan bisa merasakan kembali jatuh cinta untuk akhirnya kesakitan. Maka ia menutup pintu, menghindari segala pertanyaan.Perempuan itu tak lagi mencintai hujan, ia memilih tuk menjauh darinya. Seperti ia memutuskan tuk mengubur dalam-dalam segala kenangan dan kesakithatian.

Dan sejak itulah ia membenci hujan. Karena baginya, titik-titik air dari awan laksana paku-paku kenangan yang menghujam kepalanya telak.

Dan sejak saat itu pula, ketika hujan turun juga ada tetes-tetes air yang mengalir dari matanya. Pertanda kerinduan yang tak bisa terbayarkan.

Dan kala hujan turun selalu ada doa yang diam-diam dibisikannya,
“Semoga dimanapun tuan pengembara berada, ia mengingatku seperti aku padanya.”

Doa yang diam-diam dikabulkan Tuhan.

Bogor, 12 Desember 2016
17.25 WIB

Advertisements

2 thoughts on “Nona Pecinta Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s