Quote
0

Disclaimer : tulisan ini dibuat oleh perempuan yang masih lajang, setelah berbincang dengan temannya yang juga masih lajang. Apapun yang tertulis disini adalah sebuah pandangan subjektif dan tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu. Tulisan ini murni hasil perbincangan dua perempuan yang masih awam dan sok tahu soal pernikahan.

Awalnya, aku nggak terlalu memikirkan hal ini, toh pasangan hidup adalah cerminan diri kita. Seberapa baik kita, maka sebaik itulah pasangan kita kelak. Toh, pernikahan akan terjadi pada waktunya sendiri, siap atau tidak siap.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu, dan aku baru tersadar ketika seorang teman bercerita.

“Ada yang ngajak gue serius.” Ucapnya cemas. Aku hanya tertawa. Betapa lucunya waktu mengelabui. Rasanya baru kemarin kami membicarakan PR dan tugas-tugas di balkon sekolah, tiba-tiba dia sudah ada di depanku, cemas mengenai “keseriusan” lelaki yang –katanya– baru ia temui. “Terus?” pancingku. “Dia pembina ekskul di sekolah tempat gue ngajar, jadi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan juga disana. Modelnya alim pendiem gitu..” jawabnya, masih dengan nada cemas. “Bagus dong.” Jawabku geli, “kan emang lo maunya yang alim gitu kan?” “Aduh bukan gitu! Gue baru lulus kuliah loh, masa udah nikah aja?” “Ya emang kenapa? Menyegerakan ibadah itu bagus loh.” Jawabku yang malah makin senang menggodanya. “Apalagi dia udah punya pekerjaan dengan posisi yang lumayan bagus. Alim juga, udahlah itu ayah lo pasti setuju.” Lanjutku, kali ini diselingi tawa. Puas sekali melihat wajahnya yang gusar.

Fitri, temanku ini memutar bola matanya dan menatapku lalu berkata, “Nggak, Nda. Aduh, ada yang harus kita bicarakan dulu nih.” Aku terdiam, kendati masih merasa agak geli. Lama berteman dengannya membuatku hafal segala gerak-gerik perempuan ini. Dan kalimat ‘kita perlu bicara’ adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang penting dan serius.—setidaknya untuk Fitri.

“Ya. Oke. Bicaralah.” Jawabku sambil menyandarkan punggung di bangku resto favorit yang sedang kami kunjungi.

Fitri menghela nafas dan meminum es teh manis pesanannya. Setelah terdiam beberapa detik sambil memainkan sedotan di gelasnya, baru ia bicara.

“Oke. Pertama. Gue tau lo juga ngerasa kayak gue, bahwa kita sama-sama nggak pengen cepet-cepet nikah, iya kan?” mulainya dengan strategi bicara Fitri yang khas; menyamakan persepsi. Aku hanya nyengir dan mengangguk. Kami pernah membicarakan ini sejak awal berkuliah.

“Nah. Itu udah jadi excuse yang jelas banget, kan? Gue baru dua puluh dua tahun. dua-puluh-dua.” Ucapnya, sambil memberi penekanan pada tiga kata terakhir. “dan rasanya masih banyak yang bisa gue lakukan, yang harus gue lakukan, sebelum gue memutuskan menikah. Gue tahu, beberapa orang pasti ada yang nggak setuju sama pemikiran ini. Tapi gue merasa—dan gue tahu lo pasti sependapat—bahwa menikah itu rasanya kayak membuka gerbang baru kehidupan, tapi juga menutup beberapa pintu kesempatan.” Ia berhenti untuk menatapku, seolah meminta persetujuan. Lagi-lagi, aku menyeringai. Karena tanpa persetujuan, kami sadar bahwa cara berpikir kami seringkali sama. “iya, fit. Gue setuju.” Jawabku.

“Gue tahu dan gue ngerti, kalau menikah itu melengkapi setengah agama, menikah itu ibadah, menikah itu membangun ladang pahala. Gue paham banget, Nda. Tapi kita juga harus realistis. Menikah, walau niatnya ibadah, kalau tanpa persiapan yang matang nggak bakalan mudah.” Lanjut Fitri.

“Tapi kan, memang sesiap apapun, pernikahan tuh nggak ada yang bisa diawali dengan mudah kan? Kenapa nggak menyiapkan diri sambil jalan aja?” pancingku, mulai tertarik dengan topik ini.

“Nggak, Nda. Yang lagi kita omongin ini pernikahan, sesuatu yang dijalani seumur hidup. Dari pernikahan ini kita bakalan punya keturunan, membangun budaya sendiri yang nantinya turun-temurun ke anak cucu. Kebayang dong, sebesar apa tanggung jawab kita? Kita jadi salah satu pembentuk generasi loh, nda. Dan bisa jadi kita membentuk budaya baru juga. Nah sekarang, bayangkan apa yang bakalan terjadi kalau kita memulai itu semua tanpa persiapan yang cukup?” aku manggut-manggut, mulai memahami maksud pembicaraan Fitri.

“Kalau memang ada yang mau menyiapkan diri sambil memulai pernikahan, itu adalah pilihan mereka. Kalau gue, gue mau ketika memutuskan menikah, gue udah siap –physicly and mentally—untuk menjadi istri dan ibu yang baik kelak.” Lanjutnya.

“Dan lo sekarang merasa belum siap?” tanyaku. “Exactly.” Jawab Fitri singkat, kemudian meminum es teh manisnya. “Lo lihat gue, lihat diri lo juga. Apa menurut lo kita berdua” ia mengarahkan jari telunjuknya pada dirinya sendiri kemudian kepadaku, “Udah bisa menjadi istri yang baik? Udah siap menjadi Ibu? Dengan kondisi emosi yang masih labil? Dengan cara menghadapi masalah yang kadang nggak pikir panjang? Lo bayangin tahun ini lo udah nikah, tahun depan lo udah punya anak. Lo udah siap menghadapi kondisi dimana anak lo sakit tengah malam? Lo udah bisa mencari solusi seandainya pendapatan lo dan suami masih pas-pasan dan harus mencukupkan sampai akhir bulan? Belum lagi biaya kebutuhan pokok yang makin tinggi. Sekarang ini pengeluaran kita belum seberapa, nda. Dan apakah lo udah bisa berkompromi sama sikap dan cara berpikir pasangan lo? Menghadapi tingkah lakunya seumur hidup. Udah siap? Kalau gue sih, belum.” Fitri mengangkat bahu.

Worth to think.” Balasku sambil mengangguk. “Tapi katanya rezeki bakalan bertambah setelah menikah kan, Fit? Dan kenapa kalau gue lihat-lihat, temen-temen kita yang seumuran dan udah menikah, kayanya baik-baik aja.” Fitri tertawa. “Nda, rezeki memang katanya akan bertambah setelah menikah, tapi kita juga harus realistis. Pasti nggak selamanya kondisi pernikahan seneng terus, cukup terus. Akan ada masa-masa sulitnya. Disitu kesabaran dan kedewasaan kita diuji.” Jawabnya. “dan kalau kita lihat mereka yang seusia kita, udah nikah dan kelihatannya bahagia, mereka hanya menunjukkan apa yang ingin mereka tunjukkan. Kita nggak pernah tahu kan kehidupan pernikahan mereka yang sebenarnya, mereka berantem atau enggak, berbeda pendapat atau enggak?” tanyanya retoris. Aku mengangguk, lagi-lagi.

“Tapi Fit,” kataku setelah terdiam cukup lama, “Laki-laki yang katanya lagi serius sama lo itu, masuk kriteria lo nggak? Karena ketika nyari pasangan, kita pasti memasang kriteria atau standar tertentu, kan? Apalagi ini buat jadi teman seumur hidup.”

Fitri tersenyum kecil. “Lucu ya,” katanya, “Waktu kita masih SMA dan pengen punya pacar, pasti kita memasang kriteria, pengen yang ganteng, tinggi, pinter, wangi, rajin sholat, aktif di organisasi, and all of that stuff.” “Terus yang masuk kriteria kita, nggak mau sama kita, iya kan?” kataku sambil tertawa. Fitri balas tertawa.

“Nah sekarang, gue juga punya kriteria sendiri dalam nentuin calon pasangan gue kelak. Jelas gue pengen dia taat beribadah dan paham agama, karena dia yang nantinya bakalan jadi imam. Gue juga pengen dia tegas, karena gue nggak bisa tegas. Gue rasa gue nggak perlu menyebutkan dia harus baik atau pintar, karena dengan dia taat beribadah dan paham agama, dengan sendirinya dia akan menjadi baik dan cerdas.” Katanya sambil tersenyum.

“Dan kayaknya kriteria ini ada di laki-laki yang tadi lo ceritain.” Balasku, menyeringai.

No. Buat gue, dia terlalu pendiam. Gue perlu seseorang yang tegas, yang sigap dan bisa ngambil keputusan. Karena itu kekurangan gue, yang nggak bisa gue miliki.” Katanya.

“Sebentar, Fit.” Kataku, “Lo selalu bilang bahwa pasangan lo nanti harus jadi seseorang yang melengkapi lo. Tapi apakah lo udah bisa melengkapi dia? Apakah kita udah bisa melengkapi, mengisi bagian-bagian yang kosong dari pasangan kita nanti? Karena katanya, jodoh itu kayak puzzle, saling mengisi.” Fitri terdiam. Aku juga.

“Mungkin..” lanjutku, “Mungkin yang harus kita temukan bukan orang yang mau melengkapi kita, Fit. Bukan yang saling mengisi kekurangan satu sama lain.” Fitri menatapku serius, berusaha memahami. “Mungkin yang harus kita lakukan dari awal adalah menjadi seseorang yang lengkap, yang utuh, yang paling baik yang bisa kita ciptakan. Untuk pasangan kita nanti. Karena pasti beda kan, saling menguatkan dengan sama-sama kuat?”  Fitri mengangguk kuat-kuat, sepenuhnya setuju pada pemikiranku ini.

“Bahwa kita harus jadi seseorang yang lengkap, menjadi rumah yang baik buat suami kita nanti. Menjadi sekolah terbaik buat anak-anak kita nanti.” Kataku. “Menjadi makmum yang baik, buat imam terbaik yang lagi kita cari. Gitu, ya?” balas Fitri. Aku mengangguk setuju. “Kita seringkali terlalu sibuk nyari imam yang baik, tapi lupa membentuk diri jadi makmum yang baik.” Kataku.

“Gue setuju sama pendapat lo, Fit. Pernikahan nggak bisa diburu-buru, walaupun ia berkah, walaupun katanya indah, walaupun katanya jadi ladang pahala dan rezeki. Pernikahan bukan sekedar pacaran, esensinya lebih dari itu. dia semacam perjanjian sekali seumur hidup –mudah-mudahan–.” Kataku. “dan nggak bisa dipaksakan, dibuat ‘yaudah, jalanin dulu aja’. Emosi yang belum stabil bisa bahaya buat kelanjutan kehidupan pernikahan itu sendiri.” Balas Fitri. “Bahwa kita harus menikah karena memang waktunya yang tepat, bukan karena harus cepat-cepat.” Lanjutnya. Aku mendengarkan sambil meminum jus alpukat yang gelasnya sudah basah oleh embun es batu karena terlupakan.

“Karena menjadi teman hidup buat suami kita nanti, berarti harus udah siap menjadi dan mengupayakan yang terbaik dari diri kita sendiri buat dia. Karena memang begitu kan, seharusnya pernikahan? Saling mengupayakan dan menjadi yang terbaik. Bukan sekedar melengkapi.” Kataku. Fitri mengangguk setuju.

Ya, karena menjalani pernikahan dan menjadi teman hidup bagi seseorang bukanlah perkara mudah. Dan memerlukan persiapan sematang-matangnya.

Jadi, sudah siapkah kamu memasuki gerbang kehidupan yang mereka sebut ‘baru’?

patheos [dot] com.jpg

Bogor, 02 November 2016

12.11 WIB

P.S : Tulisan ini dibuat sejak bulan Oktober 2016, tapi baru pede untuk di-upload sekarang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s