Keinginan dan Kemampuan

Akhir pekan lalu, saya mengikuti ujian akhir semester. Saat itu masih pagi dan ujian belum dimulai, tapi saya sudah duduk di bangku kelas dan bengong memandang pintu.

Lalu tiba-tiba, ada sosok yang menarik perhatian.

Seorang perempuan yang masih muda, mungkin seusia dengan saya. Tapi yang menarik perhatian saya adalah langkahnya yang terpincang-pincang, dan salah satu tangannya yang (maaf) tidak ada. Ia berjalan melewati ruang kelas, mungkin menuju ruang ujian yang berbeda.

Satu pemandangan yang membuat saya tersentak.

Bahwa perempuan itu, dengan segala keterbatasannya, masih memiliki semangat yang kuat untuk belajar.

Sementara saya?

Di tengah segala kecukupan dan kemampuan, saya masih saja mengeluh kesulitan.

Ah, kadang manusia memang begitu.

Diberikan Tuhan segala kelebihan, tapi masih saja merasa kurang. Selalu saja menemukan alasan untuk berhenti berjuang.

“Aduh, gue nggak sempet kuliah deh, kerjaan aja udah banyak gini.”

“Aduh, tugas kuliah nggak sempet dikerjain nih. Udah keburu capek.”

Dan masih banyak excuse lainnya, padahal semua manusia diberi waktu yang sama.

Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang terlalu pandai mengeluh dan bukannya bersyukur.

Semoga kita bisa belajar dari perempuan itu, perempuan yang tidak sempat saya ketahui namanya, agar tetap bersyukur dan tidak menjadikan keterbatasan –apapun itu– sebagai alasan.

Karena, antara kemampuan dan cita-cita, kita hanya dibatasi oleh keinginan.


Bogor, 2 November 2016

09.50 WIB.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s