“Kapan Nikah?” (A Short Story)

080010500_1437311031-4_ayokupas_com

Hai, namaku Kanaya Wulansari. Aku biasa dipanggil Naya oleh keluarga dan teman-teman di kampusku. Aku lahir sekitar 22 tahun yang lalu, pada hari Sabtu ketika matahari baru saja terbenam. Ayahku seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta yang juga biasa. Ibuku hanya ibu rumah tangga yang tetap mengurus anak perempuannya seolah-olah aku masih berusia 8 tahun.

Kami adalah keluarga sederhana yang hidup dengan biasa-biasa saja. Kebetulan tempat tinggal kami pun terletak di komplek perumahan yang dekat dengan perkampungan warga. Sehingga silaturahmi kami dengan para tetangga menjadi lebih mudah. Ibu selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan mereka, para tetangga. Entah dengan membagikan makanan ringan yang biasanya ibu buat sendiri, atau sekedar menyapa tetangga yang tengah duduk di teras rumah mereka.

“Jadi perempuan itu harus ramah, Nay.” Kata ibu suatu hari, ketika aku tengah menemaninya memasak. “kita kan tinggal di Negara yang menjunjung sopan santun. Jangan terlalu cueklah sama tetangga, minimal senyum setiap papasan.” Lanjut Ibu. Aku hanya diam mendengarkan sambil sibuk memotong wortel. Biarkan saja, Ibu kalau bicara lebih baik tidak dipotong.

“kamu itu kayanya kurang bersosialisasi sama tetangga-tetangga disini.” Lanjut Ibu sambil tangannya tetap asyik menggoreng ayam.

Aku nyengir sejenak “hehe iya ya bu…” jawabku singkat dan menggantung. Jelas ini bukan tanggapan yang diharapkan Ibu. Bagaimana lagi, sejujurnya aku malas terlalu banyak mengobrol sama tetangga disini. Bukan apa-apa, tapi mereka selalu saja membandingkan aku dengan perempuan (atau mereka menyebutnya perawan) lain disini yang seumur denganku, dan sudah menikah. Duh, memangnya kenapa kalau aku belum menikah dan berbeda dengan “perawan” lain di daerahku? Aku mulai gerah dengan obrolan iseng para tetangga. Seolah-olah di usiaku yang sekarang, belum menikah adalah dosa.

***

Aku tengah berjalan di selasar kampus, kuliah jam pertama baru saja usai. Masih ada waktu sekitar 1 jam untuk mata kuliah selanjutnya. Aku memutuskan menunggu di pojokan kantin. Pacarku sudah menunggu disana.

Ah ya, aku lupa belum mengenalkan pacarku. Ia bernama Samudra Bramantya. Aku biasa memanggilnya Brama. Ia mahasiswa tingkat akhir, sama sepertiku. Hanya saja kami berbeda jurusan, aku mahasiswi jurusan Sastra Inggris sementara ia mengambil jurusan Akuntansi. Kami sudah berpacaran sejak masih bersekolah di SMA yang sama, hampir 4 tahun yang lalu.

Brama tersenyum ketika melihatku di ujung lorong kantin. Kami duduk di bagian kantin yang kami sebut pojokan favorit. Pojokan ini memang sering diisi oleh pasangan-pasangan yang berpacaran. Mungkin karena suasananya yang romantis. Sudut kantin ini terdiri atas beberapa bangku kayu dan letaknya di luar kantin, dekat taman. Aku duduk di bangku samping Brama, angin sepoi-sepoi memainkan rambutku yang diikat tidak beraturan.

Brama menyodorkan sebotol air mineral yang sudah ia siapkan. “Makasih.” Ucapku sambil tersenyum dan meminumnya sedikit. Brama tersenyum dan menanggapi dengan mengacak-acak rambutku.

Brama memiliki tubuh yang sedang. Tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Tidak gemuk, tapi juga tidak terlalu kurus. Tingginya mungkin sekitar 168 cm. Rambutnya lurus dan berpotongan rapi. Brama berwajah agak oriental, tetapi sesungguhnya ia adalah lelaki Sunda asli. Katanya, wajah orientalnya didapat dari kakek.

Aku sendiri bertubuh cukup padat, dengan tinggi badan hanya seleher Brama. Aku mewarisi wajah cantik Ibu yang dulunya adalah Mojang Kota Bandung. Rambutku berwarna hitam dan agak bergelombang, panjangnya sepunggung dan sering ku ikat seenaknya. Kata Ayah, wajahku benar-benar “seperti perempuan Sunda sejati.” Aku tidak terlalu mengerti maksudnya apa, tapi ku iyakan saja.

“Nay,” suara Brama mengejutkanku. “Mau makan? Kamu kayaknya lemes banget.”

“Enggak deh, Bram. Aku belum lapar.” Jawabku sambil merapikan rambut. Memang lumayan lemas juga, karena pagi tadi jadwalnya kuliah statistik. Walaupun Cuma pengantarnya juga kan aku tetap nggak ngerti.

“Oh iya, Nay.” Brama bicara sambil tangannya sibuk mencari sesuatu didalam tas. Aku hanya memperhatikan. “kamu inget Ina? Temen SMA kita dulu.”

Otakku sibuk mencari-cari wajah Ina di database teman-teman SMA. “Oh iya, aku ingat.” Kataku setelah beberapa menit. “yang sama-sama kita di OSIS dulu kan?” lanjutku memastikan.

“Iya yang itu. Dia mau nikah minggu depan, nih aku dikasih undangannya.” Jawab Brama sambil menyodorkan sepucuk surat undangan berwarna putih. Aku meraih dan membaca undangan itu sekilas

“Kamu mau datang nggak, Nay?” Tanya Brama. Aku terdiam sejenak. Kalau ada hal lain yang membuatku malas mengobrol dengan tetangga, hal itu adalah memenuhi undangan pernikahan seorang teman. Bukannya aku anti sosial, sumpah deh. Aku sebenarnya orang yang ramah walaupun tidak banyak bicara. Tapi aku malas menanggapi pertanyaan orang-orang tentang pernikahan dan kenapa aku belum menikah. Sementara orang-orang di sekeliling yang sebaya denganku sudah menikah. Bahkan ada yang sudah memiliki anak. Pertanyaan-pertanyaan nggak penting yang dibalut modus “peduli” itulah yang membuatku malas menemui orang-orang.

“Nay?” Tanya Brama yang sekarang tengah menatapku, menunggu jawaban. Aku tersentak, baru sadar sejak tadi aku melamun. “Oh iya, Bram.” Jawabku, “Iya nanti kita datang kesana.”. Setidaknya, bersama Brama, aku bisa menghadapi pertanyaan-pertanyaan iseng itu dengan lebih santai.

“Oke, Nay. Nanti ku jemput ke rumah ya.” Kata Bram, “kamu yakin nggak mau makan? Sebentar lagi masuk loh. Habis ini sampai sore kan kuliahmu?”

Inilah yang ku sukai dari Brama. Ia begitu perhatian, bahkan sampai ke hal kecil seperti jadwal kuliahku.

“Nggak usah, Bram. Beneran deh.” Jawabku sambil senyum dan menatapnya. “Kamu aja yang makan, ku temani.”

“Gampang, nanti aja sambil nunggu kamu pulang. Hari ini kan kuliahku Cuma sebentar.” Jawabnya.

“Oh iya,” ucapku seperti teringat sesuatu, “Hari ini nggak perlu anterin aku pulang, Bram. Aku mau ke perpus dulu, cari bahan buat skripsi.”

“Kamu ini rajin banget sih, Nay.” Brama menanggapi sambil memandangku setengah takjub, setengah khawatir. “dijaga loh kesehatannya, jangan sampai maagmu kambuh lagi itu..”

“Siap, Pak Bos!” kataku sambil berlagak hormat. “Aku bawa biskuit kok buat camilan. Tenang aja, aku kan kuat, nggak gampang sakit.” Lanjutku sambil nyengir.

Brama tertawa, “Iya, aku percaya kamu kuat. Saking kuatnya, kamu lupa kalau kamu itu masih manusia.” Ucapnya.

Aku balas tertawa dan melihat jam di tangan. “Aku harus mulai kuliah lagi, Bram. Kamu mau ke kelas juga kan?” kataku sambil mengikat rambut, lagi-lagi dengan asal.

“Enggak, Nay. Dosenku nggak masuk hari ini, jadi ada jam kosong. Paling nanti aku ke ruang HIMA.” Jawab Brama. Ia memang salah satu aktivis kampus, dan bergabung di sebuah organisasi kampus di Fakultasnya.

“Oke deh. Ku tinggal ya Bram.. I love you.” Kataku sambil berdiri dan mengusap pipinya.

I do more.” Jawabnya sambil tersenyum sambil balas mengusap pipiku. Aku melambai padanya dan mulai berjalan kearah berlawanan. Kelasku sebentar lagi dimulai.

***

Pukul 20.00 WIB. Aku baru saja turun dari angkutan umum dan sedang berjalan kaki menuju rumah. Jarak dari jalan raya ke rumahku memang cukup jauh, tapi bagiku itu tidak masalah. Aku sudah biasa pulang malam dari kampus karena ada keperluan atau sekedar menghabiskan waktu di Perpustakaan.

“Teh Naya, baru pulang?” sapa seorang wanita muda yang baru saja keluar dari warung di samping rumahku. Ia menggendong anak kecil dan menjinjing sekantong belanjaan. Wanita muda ini adalah salah satu tetanggaku. Aku biasa memanggilnya Ratna. Kalau tidak salah ia berbeda 1 tahun lebih muda dariku. Dan karena itulah ia memanggilku “teteh”.

“Eh Ratna.. iya nih abis ngampus.” Jawabku sambil tersenyum. “Ratna dari warung?” tanyaku berbasa-basi sambil mencolek-colek anak kecil yang digendong Ratna, anaknya.

“Iya teh, biasa nih suami minta dibuatin kopi pulang kerja, kebetulan di rumah lagi abis.” Jawab Ratna. Aku hanya mengangguk. “Dedenya ga pake jaket iniii? Duuuh lucu amat sih…”. Aku masih asyik menggoda anaknya Ratna ini. Aku lupa namanya siapa, ku panggil Dede biar terdengar akrab saja. “Hehe lucu ya? Hayu atuh, Teh Naya juga cepetan bikin dede. Hehehehe..”. Ratna menjawab sambil tertawa. Tuh kan. Aku hanya menanggapi dengan tertawa garing.

“Hehehe. Yuk ah, aku juga duluan ya.” Kataku sambil tertawa setengah hati dan bergegas berjalan. Ratna hanya tersenyum mengiyakan. Ia berjalan sambil menggendong anak perempuannya yang berusia kurang dari setahun, dan hanya memakai kaos serta celana pendek. Padahal cuaca saat itu cukup dingin.

“Bu, aku tadi ketemu Ratna.” Kataku pada Ibu ketika sudah sampai rumah. Kami sedang duduk di ruang tengah, menonton televisi.

“Oh ya?” kata Ibu sambil matanya tak lepas dari televisi.

“Iya. Aku ketemu dia di warung, habis beli kopi buat suaminya.” Jawabku.

“Hmm…” Ibu manggut-manggut, masih sambil menonton televisi.

“Ratna kan bawa anaknya itu ya bu, terus aku godain. Eh ujung-ujungnya teteeeeep aja aku disuruh nikah. Bosen deh lama-lama sama bahasan itu.” Lanjutku, kini dengan nada yang menyiratkan kekesalan.

Ibu tertawa dan menjawab, “ya udahlah, Nay. Kamu nanggepinnya biasa aja, nggak usah kesel juga.”

Aku langsung terdiam. Setengah karena masih kesal, setengahnya lagi malu ke Ibu karena sudah marah-marah nggak jelas.

“Kamu itu kadang kayaknya sensi loh Nay, kalau udah bahas pernikahan di usia muda. Kenapa sih?” Tanya Ibu.

“Ya habis bu,” kataku setelah beberapa menit terdiam, “Orang-orang di sekitar Naya heboh banget soal pernikahan. Banyak banget yang nanya kenapa Naya belum nikah, kapan Naya nikah. Seolah-olah di umur sekarang Naya harus menikah. Harus banget. Kalau nggak menikah, Naya dosa.” Kataku panjang lebar.

Ibu tertawa, “Ya nggak gitu juga atuh Nay…” katanya sambil masih tertawa, “Mereka itu, nanyain kamu udah nikah atau belum, nanyain kapan kamu nikah ya Cuma basa-basi aja Nay.. Cuma bercanda. Nggak usah ditanggepin serius.”

“Lah kan bisa Bu, nanya hal lain. Nanyain kuliah Naya, atau apa kek gitu. Jangan nikah terus yang dibahas.” Kataku membela diri.

“Mereka ngomongin nikah karena di lingkungan ini, yang kuliah nggak banyak Nay. Lebih banyak yang nikah daripada yang kuliah di umur kamu sekarang. Jadi mereka lebih terbiasa dengan kondisi nikah muda ini. Nggak usah dianggap terlalu serius Nay. Anggap aja mereka peduli sama kamu.” Kata Ibu sambil menepuk lututku.

“Kita ini tinggal di Negara yang penuh basa-basi, Nay. Semua hal rasanya bisa dijadikan bahan basa-basi. Memang sebetulnya masalah nikah itu sensitif, bisa aja yang ditanyai sebetulnya udah pengen banget nikah, tapi belum ketemu jodohnya. Memang masih banyak basa-basi lain yang bisa ditanyakan. Tapi disini, basa-basi tentang pernikahan itu yang jadi pilihan. Anggap aja mereka peduli dan mendoakan kamu, Nay. Walaupun caranya kadang menjengkelkan.” Ibu menjelaskan panjang lebar tentang hal yang selama ini mengesalkanku, dengan sudut pandang yang berbeda.

Aku terdiam. Ibu ada betulnya juga.

“Sudah ah, Ibu mau tidur. Kamu jangan kesel lagi dong Nay..” kata Ibu sambil beranjak menuju kamarnya.

“Nggak kesel kok bu,” kilahku, daripada Ibu nggak jadi tidur dan melanjutkan ceramahnya.

“Ya sudah kalau gitu, Ibu tidur duluan ya.” Kata Ibu, kali ini benar-benar masuk ke kamarnya. Meninggalkan aku berpikir sendirian di depan televisi yang masih menyala. Aku menghela nafas dan mematikan televisi, kemudian masuk ke kamar.

***

Aku masih merenung di kamar. Memikirkan perkataan ibu barusan. Kata Ibu, mereka hanya peduli.

Tapi, apakah peduli harus seperti itu? Pikirku gusar sambil menjatuhkan kepala ke bantal. Bukankah masih banyak cara lain untuk peduli? Bagaimana kalau yang ditanya tentang pernikahan sebenarnya memang sudah sangat ingin menikah, tapi belum diberikan kesempatan oleh Tuhan? Bagaimana kalau ia memang belum menemukan jodohnya? Atau sudah punya pasangan tapi tidak direstui orang tuanya? Atau mungkin, sudah punya pasangan, direstui orang tua, tapi masih harus menabung untuk persiapan pernikahan? Apakah mereka yang bertanya peduli akan masalah-masalah tersebut? Masalah-masalah yang menjadi penyebab kenapa mereka belum menikah. Aku menghela nafas, masih kesal. Mereka yang ditanya dan menjawab dengan tersenyum itu, bisa saja setiap malamnya menangis, meminta Tuhan segera mempertemukan ia dengan jodohnya. Apa mereka yang bertanya, yang katanya peduli, benar-benar memperhatikan sampai sana?

Aku memijat keningku sendiri. Permasalahan ini, kalau dipikirkan, lama-lama bikin pusing juga.

Susah jadi perempuan di Indonesia. Batinku, belum menikah, ditanya kapan nikah. Nanti ketika sudah menikah, ditanya kapan punya anak. Nanti ketika punya anak pertama, ditanya kapan mau ngasih adik. Belum lagi kalau setelah menikah lama hamilnya, ditanya kenapa nggak hamil-hamil, bisa jadi sampai dianggap nggak bisa punya anak. Atau nanti kalau setelah menikah langsung hamil, disangkanya sudah hamil duluan.

            Susah juga tinggal di Negara penuh basa-basi. Katanya peduli, tapi kalau nanya kadang nggak ada batasnya. Nggak mikirin perasaan orang yang ditanya. Kadang basa-basi berjalan tanpa tenggang rasa.

Aku membuka mata yang sedari tadi terpejam. Tapi hal ini nggak bisa dihindari. Sampai kapanpun orang-orang di sekitarku akan terus berbasa-basi dengan cara kayak gini. Cara paling mudah ya…. Mengubah persepsi diri sendiri terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Betul juga kata Ibu. Dibawa santai aja, karena mereka akan terus berbasa-basi, peduli dengan cara “nanya-nanya” tersebut.

            Aku menghela nafas lagi, kali ini tidak dengan rasa kesal, tapi dengan satu pemahaman baru tentang bagaimana menyikapi ini semua. Tiba-tiba saja, aku tidak lagi merasa malas untuk datang ke pernikahan Ina bersama Brama nanti. Aku tahu harus menanggapi seperti apa pertanyaan-pertanyaan tersebut. Cukup menggenggam tangan Brama dan tersenyum.

Susah jadi Perempuan di Indonesia. Pikirku sambil tersenyum.  Harus menghadapi pertanyaan penuh basa-basi yang takkan berhenti. Tapi, toh hanya basa-basi. Tak usah ditanggapi pakai hati.

            Toh pada akhirnya, batinku sambil membalikkan badan, bersiap tertidur. Aku pasti akan menikah. Dan tidak semua yang berbasa-basi menanyakan kapan aku menikah, akan aku undang.

            Bahkan kalau aku masih malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan, “Kapan Nikah?” aku bisa menggandeng Brama, tersenyum dan meninggalkan si penanya.

Ya begitulah, kadang memang susah jadi perempuan di Indonesia.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s